Karesidenan.com – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, kembali mencuri perhatian publik dengan kritiknya terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dalam sebuah video yang diunggah di media sosial, Dino menyatakan bahwa Prabowo menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Ia mengungkapkan bahwa sejak menjabat, Prabowo menghabiskan hampir satu dari enam harinya di luar negeri, jumlah yang dianggapnya tidak lazim dan berada di luar batas kewajaran.
Dino, yang memiliki rekam jejak panjang dalam diplomasi Indonesia, menegaskan bahwa perjalanan ke luar negeri seorang presiden memerlukan biaya yang sangat tinggi, termasuk logistik, keamanan, dan protokol. Ia menyarankan agar Prabowo mempertimbangkan untuk mengurangi perjalanan ke luar negeri dan memanfaatkan teknologi seperti video call untuk komunikasi resmi.
“Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini,” ujar Dino. Ia juga memberikan lima saran praktis untuk meningkatkan efisiensi anggaran.
Rekam jejak Dino Patti Djalal sebagai diplomat terbilang cemerlang. Lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965, ia tumbuh dalam keluarga diplomat dan menempuh pendidikan di luar negeri, termasuk di London School of Economics. Kariernya di Kementerian Luar Negeri dimulai sejak 1987, dan ia telah menjabat sebagai Duta Besar untuk Amerika Serikat serta juru bicara presiden.
Dalam kritiknya, Dino bukan hanya mengemukakan masalah perjalanan luar negeri, tetapi juga menciptakan dialog tentang pentingnya efisiensi anggaran negara. Namun, kritik tersebut tidak lepas dari tanggapan berbagai pihak. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengakui bahwa setiap kritik sangat dihargai, tetapi juga meminta agar pencapaian yang diraih dalam diplomasi internasional tidak diabaikan. Teddy menjelaskan bahwa jumlah rombongan dalam setiap perjalanan luar negeri Presiden Prabowo telah dikurangi secara signifikan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Kritik yang disampaikan Dino juga menuai tanggapan dari politikus lain seperti Habiburokhman, yang mempertanyakan etika Dino dalam menyampaikan kritik tersebut. Habiburokhman menilai bahwa Dino sebaiknya tidak memancing opini publik untuk membanding-bandingkan kinerja para pemimpin.
Di tengah pro dan kontra terhadap pernyataannya, banyak yang tetap menghargai kontribusi Dino dalam bidang diplomasi dan kebijakan luar negeri. Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta, menyebut Dino sebagai diplomat berani yang telah berkontribusi besar dalam menjunjung tinggi nama Indonesia di kancah internasional.
Dengan latar belakang dan pengalamannya yang mendalam, Dino Patti Djalal terus menjadi sorotan, tidak hanya sebagai seorang diplomat, tetapi juga sebagai suara kritis dalam perkembangan politik dan diplomasi Indonesia. Apakah kritiknya akan berpengaruh pada kebijakan luar negeri di masa mendatang? Hanya waktu yang akan menjawab.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.











