Karesidenan.com – La Paz, Bolivia – Aksi demonstrasi yang berkepanjangan di Bolivia semakin memanas, memicu pengunduran diri sejumlah menteri dalam pemerintahan Presiden Rodrigo Paz. Pada Selasa (2/6), Menteri Pertahanan Marcelo Salinas dan Menteri Pendidikan Beatriz Garcia mengumumkan pengunduran diri mereka, menandai langkah signifikan dalam krisis politik yang melanda negara tersebut.

Gelombang unjuk rasa ini dimulai sebagai protes terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak mampu mengatasi krisis ekonomi terburuk dalam empat dekade terakhir. Para demonstran, yang terdiri dari pekerja, petani, dan guru, menuntut langkah konkret untuk meringankan beban ekonomi yang semakin berat. Dalam beberapa minggu terakhir, Bolivia telah menyaksikan hampir seratus aksi blokade jalan yang menyebabkan kekurangan bahan pokok, obat-obatan, dan bahan bakar di kota-kota besar seperti La Paz dan El Alto.

Baca juga:

Pengunduran diri Salinas dan Garcia menambah ketidakpastian di tengah situasi yang semakin tegang. Salinas, yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan, memiliki tanggung jawab besar dalam mengawasi angkatan bersenjata dan memberikan nasihat terkait masalah keamanan kepada pemerintah. Keberadaannya menjadi semakin krusial ketika pemerintah mempertimbangkan langkah-langkah darurat yang mungkin melibatkan militer untuk mengendalikan situasi yang tidak stabil.

Perdana Menteri Paz, yang didukung oleh pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump, mengungkapkan bahwa Bolivia berada di “titik kritis”. Namun, pemerintahannya menolak untuk mengesampingkan kemungkinan mendeklarasikan keadaan darurat, yang dapat membuka jalan bagi penggunaan kekuatan militer untuk meredakan protes.

Baca juga:

Mantan Presiden Evo Morales, yang kini berada dalam persembunyian, dituduh memimpin unjuk rasa ini untuk mengubah tatanan demokrasi yang ada. Morales menyatakan bahwa ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah Paz disebabkan oleh kebijakan yang dianggap tunduk pada kepentingan asing, terutama AS. Dalam pernyataannya, Morales menyebutkan bahwa rakyat Bolivia marah karena pemerintahan saat ini tidak memperhatikan kebutuhan mereka.

Protes ini dimulai sejak awal Mei 2026, diawali dengan pemogokan tenaga kerja yang kemudian berkembang menjadi gerakan demonstrasi nasional. Saat krisis semakin dalam, berbagai kelompok oposisi semakin bersatu untuk menuntut pengunduran diri Presiden Paz.

Baca juga:

Di tengah ketidakpastian ini, harga barang-barang kebutuhan pokok di Bolivia melonjak, menambah penderitaan rakyat yang sudah tertekan oleh situasi ekonomi. Pemerintah Bolivia menghadapi tantangan besar untuk meredakan ketegangan ini, dengan harapan bahwa langkah-langkah yang diambil dapat membantu menstabilkan situasi sebelum semakin banyak menteri lainnya mengikuti jejak Salinas dan Garcia.

Situasi di Bolivia menjadi perhatian internasional, mengingat dampak dari ketidakstabilan politik dapat memiliki konsekuensi yang lebih luas bagi kawasan. Pengawasan ketat terhadap perkembangan ini menjadi penting, baik oleh masyarakat internasional maupun oleh para pemimpin regional.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: