Karesidenan.com – Di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, tradisi batik tulis yang kaya akan budaya bertemu dengan ekosistem keuangan modern. Di tengah pesisir utara Jawa Tengah ini, para perajin batik masih setia mempertahankan warisan leluhur mereka, sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman yang menghadirkan kemudahan dalam transaksi keuangan.
Sejak tahun 2024, kehadiran Agen BRILink di Taman Batik Bakaran telah menjadi jembatan bagi warga desa untuk mengakses layanan keuangan. Dengan papan penanda yang mencolok, layanan ini telah mengubah cara masyarakat melakukan transaksi keuangan, mengurangi jarak dan biaya yang sebelumnya menjadi kendala. Sebelumnya, warga harus menempuh perjalanan jauh ke kantor cabang perbankan hanya untuk membayar tagihan atau melakukan transfer. Kini, mereka cukup berjalan kaki ke kios terdekat.
Tatak, salah satu warga setempat, mengungkapkan betapa besar perubahan yang dirasakannya. “Sejak ada BRILink, semua urusan jadi lebih mudah. Saya sering menggunakan untuk membayar transaksi BRIVA,” ujarnya saat ditemui di Taman Batik Bakaran. Aktivitas transaksi di Agen BRILink pun menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan rata-rata 50 hingga 60 transaksi setiap bulan. Berbagai layanan termasuk pembayaran iuran BPJS Kesehatan, tagihan PDAM, hingga keperluan bisnis lokal turut memanfaatkan layanan ini.
Kepala Desa Bakaran Wetan, Wahyu Supriyo, menjelaskan bahwa kehadiran BRILink adalah hasil dari upaya panjang dalam penataan desa. Bakaran Wetan telah ditetapkan sebagai Desa BRILiaN oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang tidak hanya berfokus pada sektor wisata, tetapi juga kemandirian ekonomi digital. “BRILink adalah contoh nyata pendampingan BRI bagi desa kami,” ujarnya.
Dengan adanya BRILink, warga kini dapat menikmati suasana sosial di taman sambil menyelesaikan urusan keuangan mereka. Lebih dari sekadar tempat transaksi, Taman Batik Bakaran menjadi ruang interaksi bagi warga. Dukungan BRI juga melangkah lebih jauh dengan menjaga pelestarian budaya lokal. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, BRI berkontribusi dalam Festival Batik Bakaran, merayakan keunikan batik bakaran dengan pola khasnya.
Ahmad Muflihin Taiyeb, Kepala Area BRI Pati, mengungkapkan bahwa Agen BRILink membantu mendekatkan layanan perbankan kepada masyarakat desa, memungkinkan mereka untuk melakukan transaksi tanpa harus pergi jauh. “Agen BRILink dapat melakukan 1000 hingga 2000 transaksi per bulan,” tuturnya. Keberadaan agen ini tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga memberikan peluang bagi mereka untuk menghidupi diri sendiri.
Apresiasi terhadap keberadaan BRILink juga datang dari kalangan akademisi. Anis Fittria, Dosen Kewirausahaan di UIN Walisongo Semarang, menekankan bahwa BRI melalui BRILink telah menciptakan transformasi layanan keuangan yang inklusif. Layanan ini tidak hanya menurunkan biaya transaksi, tetapi juga memperluas akses perbankan dan meningkatkan literasi keuangan. “Model banking tanpa cabang ini memperkuat ekosistem digital dan mempercepat pemerataan pembangunan,” ungkapnya.
Di Desa Bakaran Wetan, masa lalu dan masa depan kini berdampingan. Sambil terus melestarikan tradisi batik, masyarakat juga beradaptasi dengan kehadiran teknologi keuangan yang mempermudah kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Desa Bakaran Wetan menjadi contoh ideal bagaimana sebuah desa dapat mempertahankan identitas budaya sambil mengintegrasikan kemajuan ekonomi modern.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
