Karesidenan.com – PARIS – Aryna Sabalenka, petenis nomor satu dunia, mengalami momen mengecewakan setelah kalah dari Diana Shnaider di perempat final Prancis Terbuka dengan skor 3-6, 7-5, 6-0. Kekalahan ini membuat Sabalenka mengungkapkan keinginannya untuk ‘menghentikan tenis’ dan membutuhkan waktu untuk merenung dan mengatasi emosinya sebelum kembali ke lapangan.
Sabalenka, yang terpaksa menghadapi angin kencang yang kembali mengganggu performanya, sebenarnya sudah berada satu langkah dari kemenangan. Setelah memimpin dengan satu set dan dua break, ia justru terjebak dalam kekalahan beruntun, kehilangan sembilan game berturut-turut. Ini adalah kekalahan yang menyakitkan bagi Sabalenka, yang sebelumnya juga mengalami kekecewaan serupa di final tahun lalu melawan Coco Gauff.
Dalam konferensi pers setelah pertandingan, Sabalenka mengungkapkan, “Saya merasa harus duduk dan merenungkan apa yang terjadi dalam pikiran saya di saat-saat sulit seperti ini.” Ia mengakui bahwa kondisi cuaca yang berangin sangat memengaruhi permainan dan menyayangkan keputusan untuk tidak menutup atap stadion saat angin bertiup kencang.
Diana Shnaider, petenis Rusia berusia 22 tahun, menunjukkan ketenangan dan kemampuan untuk memanfaatkan kelemahan Sabalenka. Ia berhasil mendominasi pertandingan dengan serangan forehand yang kuat dan memaksa lawannya melakukan kesalahan. Shnaider menyatakan bahwa ia telah menonton final tahun lalu dan mengetahui tantangan yang dihadapi Sabalenka dalam kondisi angin tersebut.
“Saya berusaha untuk tidak terlalu fokus pada Aryna, tetapi lebih kepada apa yang harus saya lakukan untuk memenangkan pertandingan,” kata Shnaider. Kemenangan ini membuka peluang besar baginya untuk melangkah lebih jauh di turnamen, di mana ia akan berhadapan dengan Maja Chwalińska di semifinal.
Sabalenka kini harus menghadapi kenyataan pahit ini dan merenungkan perjalanan kariernya. Dengan kekalahan ini, ia masih belum meraih gelar Grand Slam di turnamen lapangan tanah liat, meskipun menjadi favorit setelah eliminasi pesaing-pesaing utamanya. Ini menjadi pukulan berat bagi mentalnya, dan ia harus segera menemukan cara untuk bangkit kembali.
Sementara itu, Shnaider yang berhasil melewati derita angin dan tekanan, berambisi untuk mencetak sejarah. Keduanya menunjukkan bahwa dalam dunia tenis, mentalitas dan ketahanan mental sama pentingnya dengan kemampuan fisik. Dengan pengalaman yang terus bertambah, Shnaider bisa menjadi ancaman serius di sisa turnamen ini.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.











