Karesidenan.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin menjadi sorotan, terutama setelah kurs dolar menembus level psikologis Rp18.000 pada Kamis, 4 Juni 2026. Tren pelemahan rupiah ini menciptakan kekhawatiran di berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan hingga daya beli masyarakat.

Data menunjukkan bahwa pada perdagangan hari itu, dolar AS tercatat bergerak di level Rp18.015, dan sepanjang hari berada dalam rentang Rp17.937 hingga Rp18.024. Penguatan mata uang AS ini disebabkan oleh berbagai faktor, baik eksternal maupun domestik, yang berkontribusi pada tekanan terhadap rupiah.

Baca juga:

Pengamat valuta asing, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa faktor eksternal, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah, turut mempengaruhi nilai tukar. Konflik antara Iran dan AS, serta operasi militer Israel di Lebanon, berpotensi menambah ketidakpastian ekonomi global. Kenaikan harga minyak akibat konflik ini juga berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan inflasi di Indonesia.

Di sisi domestik, inflasi yang meningkat pada bulan Mei 2026 sebesar 0,28% menambah beban pada nilai tukar rupiah. Meskipun Indonesia mencatat surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, surplus tersebut mulai menyempit dan mencerminkan tekanan pada daya beli masyarakat.

Baca juga:

Dengan kondisi yang semakin menekan, Bank Indonesia (BI) telah menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar dan siap melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI berupaya memastikan kecukupan likuiditas valas guna mendukung pasar keuangan yang stabil.

Untuk masyarakat yang ingin memantau pergerakan kurs rupiah ke dolar, terdapat beberapa cara mudah yang dapat dilakukan. Pertama, menggunakan mesin pencari seperti Google dengan mengetikkan kata kunci seperti “USD to IDR”. Kedua, memanfaatkan aplikasi pemantau kurs seperti Wise atau BI Mobile, yang dapat memberikan data kurs secara real-time. Ketiga, memeriksa situs resmi bank atau lembaga keuangan yang menyediakan informasi terkini tentang nilai tukar.

Baca juga:

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini juga sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya, seperti yen Jepang dan dolar Singapura. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpastian global mempengaruhi banyak negara berkembang.

Dengan situasi yang terus berubah, arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter di AS. Masyarakat dan pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan terus memantau perkembangan ini untuk memahami dampaknya terhadap ekonomi nasional.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: